Searching...

Minggu, 14 April 2019

Sekisah Petangku 0.5


Tukang Ekspedisi (yang) Lelah

Saya ingin istirahat dari persoalan yang sejak lama saya mulai kala itu.
Namun bayangan sebagian dari mereka yang telah lalu, 
tanpa hentinya menggerayangi pikiran.
Menindas hati agar selalu menyimpan maaf dan peluang.
Dan mendobrak batas alam bawah sadar agar tetap bisa 
beri jiwa ini kepekatan, kekhawatiran, dan bahkan keterpurukan untuk memilih.


Tadinya saya bilang mereka brengsek. 
Tapi saya akan lebih brengsek jika memaki mereka tentang hal itu. 
Karena ini salah saya juga pada awalnya.  Kenapa saya mau dengan tanpa segan..
Saya menyayat wajah sendiri demi ekspresi yang indahnya hanya saat kala itu saja.
Saya memenggal kepala sendiri hanya demi ambisi manis yang setelahnya dicabik-cabik kehambaran dengan tanpa henti. 
Saya menikam badan sendiri hanya demi darahnya dapat terpeluk oleh rasa yang sampai sekarang tidak berbekas sama sekali kehangatannya bahkan pelukannya pun usai tanpa aba-aba sedikitpun.

Selain mengenai kesalahan kesalahan itu, 
izinkan saya meminta tolong tentang sesuatu.
Saya bukanlah orang awam tentang ekspedisi. 
Terperosok jatuh menggerus tanah curam. 
Meleburkan sendiri kulit dengan api. 
Mencari hilir air yang hilang titik temunya. 
Semua sudah saya lakukan, layak kertas polos yang terisi penuh oleh tinta pekat.

Tapi dengan begitu saya mudah merasa lelah, maka tolong pergi. 
Saya ingin beristirahat dari alur ekspedisi ini. 
Ingin intuisi saya bukan untuk hal hal itu saja sampai umur senja nanti.

Sekarang tolong pergi.

Dan lagi jangan kelak berbalik tatkala sudah jauh tidak berhadapan dengan saya.
Saya bisa memisahkan ruh dan jasad saya sendiri tanpa dibantu bayangan ataupun semua tentang yang telah lalu.

Jangan dibantu.
Jangan dipercepat.
Saya bisa mati sendiri 
Dengan waktu saya sendiri.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Beri Komentar Postingan ini