Searching...

Kamis, 06 Oktober 2022

Sumpah Serapah



Biarkan aku memberikan sumpah serapah pada unggahan kali ini

Bagi kalian yang memutuskan untuk pergi dari hidupku

Bagi kalian yang memutuskan untuk kembali ataupun tidak

Untuk hanya sekadar berteman kembali atau tidak menjadi asing

Bagi kalian yang sengaja memberhentikan perjalanan denganku

Menurunkanku di tengah perjalanan

Memaksaku untuk kemudian berjalan sendirian

Di tengah jalan curam dan penuh kabut

Bagi kalian yang tanpa empati meludahi dan membuangku

Kotoran yang menempel menjadi noda di hidupku

Mencipta pikiran kalut yang semakin kusut

Pakaian compang-camping yang lusuh

Tidakkah kalian lihat hal itu? 

Oh ya tentu yang kalian lihat hanya seorang wanita yang mudah untuk didapatkan

Bangunlah para bajingan

Berjalanlah para bangsat

Berlarilah para pecundang

Terbanglah para keparat

Kala waktu bergulir

Kala musim tak lagi sama

Kala zaman telah tergusur

Giliran kalian yang menderita kesakitan

Semoga kalian para bedebah merasakan apa yang aku rasakan

Jika tidak, wanita disekeliling kalianlah yang menanggung akibatnya

Atas semua rasa sakit yang aku terima

Atas semua rasa pedih yang aku tanggung sendiri

Atas semua rasa pahit yang membalut keseharianku

Kalian harus menjilati semua perasaan itu kelak

Memapahi dengan derap langkah setengah lumpuh

Sendirian, gelap, dan penuh keputusasaan


Aamiin. 

Sebilah Pisau




Manusia mana yang tidak dapat terbujuk denganmu? 
Aku saja yang bisa jatuh denganmu

Sedalam itu

Tapi sayangnya tidak lebih dari seminggu, semua sudah tuntas

Begitu saja

Lalu aku harus bagaimana? 

Harus kuapakan keterlanjuran ini? 

Apakah harus kupaksa mati? Lagi? 

Kamu kira ini mudah? 

Sudah kesekian kalinya hal ini dipaksa mati

Lama-lama bukan hanya saja hati, tapi jiwaku pun ikut mati bersamanya

Dan kamu mungkin tidak akan mengira, bahwa aku hampir saja rela memberikan semuanya padamu

Semuanya

Aku seperti terhipnotis oleh semua hal di depan mataku

Aku mengira itu adalah mawar indah, maka ku genggam erat

Tapi setelah memejam dan membuka mata kesekian kali, kulit jariku telah robek dan tulangnya terlihat

Yang aku genggam adalah sebilah pisau tajam baru terasah

Semua darah itu menetes tapi tak satupun yang menahan alirannya

Termasuk aku

Biar adanya kehabisan darah

Biar tidak hanya haus akan kasih sayang, tetapi juga haus akan hidup