Matanya seperti mutiara hitam di bawah pantulan matahari
Bibir merah merona tanpa gincu yang membentuk bulan sabit kala tersenyum
Hidung mancung layak kuncup bunga yang segera mekar mengharum
Kamu dengan kesempurnaanmu
Yang sulit aku tapakki keseluruhannya
Sejak awal aku hanya menyentuhmu pada permukaannya saja
Pada dasarnya hanya itu
Sesekali aku tengah memeluk semua itu
Namun seringkali aku bersedih karena pelukanku hanya dapat sekali saja
Ketika hendak memeluk untuk kedua kalinya
Logikaku sudah berjalan
Meratapi kesadaran bahwa kamu terlalu dongeng untuk dunia nyataku
Kamu memang pernah meminta pelukanku sekali lagi
Tapi aku takut terlarut, takut sulit untuk melepaskan kembali
Jika memang ada kali kedua
Mungkin kamu akan jadi salah satu mimpi tengah malam yang selalu dinantikan
Aku hanya bisa sebatas itu agar aku tetap bisa hidup melihatmu


