Malam tuan, bagaimana kabarmu?
Sudah kau temukan bunga mekar baru?
Tidakkah kau penasaran dengan kabar dari bunga layu ini?
Sejak bunga layu ini pertama tumbuh, ia selalu bernaung kepadamu
Dan dikala kau pergi tuan..
Kelopaknya satu persatu mulai robek tak karuan
Terombang ambing terhempas angin tak terarah
Bunga layu ini kehilangan gairahnya untuk menari
Tak pernah sama sekali kutemui bunga layu ini kembali berjingkrak kegirangan
Untuk hal apapun itu
Bahkan sekalinya ia mendapat air segar, ia merasa telah berkhianat
Tentu merasa berkhianat dari tuan yang selama ini menjadi tempat bernaungnya
Bunga ini tumbuh dengan pendewasaan yang tak seharusnya
Ia merasa megah saat bersamamu tuan hawa
Sayangnya kau merawatnya hanya sebentar
Bahkan tuan pergi meninggalkan jejak tak kasat mata
Tuan, bunga baru mana kini yang kau naungi?
Kau mungkin sebatas tau bahwa bunga layu ini akan tumbuh dengan lebih indah selepas kepergianmu
Tapi nyatanya tuan pergi meninggalkan ranting yang patah
Tuan pergi menyisakan kelopak yang hanya berwarna kekuningannya saja
Daunnya telah robek juga tuan
Bunga layu ini rindu naunganmu
- Kau mungkin hanya tau bahwa aku sebatas membencimu kini, tapi bahkan ketika aku bersanding dengan siapapun aku selalu merasa telah berkhianat bahkan di atas ketiadaanmu. Pergilah, biar ku rawat luka ini sendiri. Jangan pernah kau temui benih bunga baru yang akan tumbuh nantinya. Tak perlu hadir, titipkanlah saja bunga yang kau janjikan itu -

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Beri Komentar Postingan ini